Penyakit Mental Datang Tanpa Disadari

Penyakit Mental Datang Tanpa Disadari

Tanda seseorang mengalami gangguan jiwa kadang tidak selalu jelas terlihat. Hal ini karena setiap orang yang mengalami gangguan jiwa bisa menunjukkan gejala dan tanda yang berbeda-beda. Penyakit Mental merujuk pada berbagai masalah atau gangugan yang mengganggu kesehatan mental, sehingga memengaruhi suasana hati, pikiran, dan perilaku seseorang. Gejala dan tanda gangguan jiwa umumnya muncul secara bertahap dan biasanya dimulai dari perubahan pola atau cara berpikir, perasaan, emosi, atau perilaku sehari-hari.

Tentu masih lekat dalam ingatan kita bagaimana vokalis sekaligus frontman Linkin Park, Chester Bennington juga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di rumah pribadinya pada 20 Juli 2017 silam. Penyebabnya diduga karena Bennington depresi. Ada juga yang mengatakan, ia menjadi korban bully semasa kecil, bahkan pelecehan seksual.

Pesohor lain yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri termasuk Jonghyun SHINee. Pesohor K-Pop itu ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya di Cheongdamdong, Seoul, Korea Selatan, 18 Desember 2017. Jonghyun tewas akibat menghirup gas karbon monoksida dari briket batubara yang dibakarnya. Cara ini banyak dilakukan warga Korea Selatan untuk bunuh diri.

Bunuh diri memang bisa terjadi pada siapapun tanpa memandang kasta. Kisah bunuh diri sambil membawa anggota keluarga juga dilakukan Evy Suliastin Agustin (26) warga Jombang, Jawa Timur yang mengajak tiga anaknya dengan menenggak obat nyamuk cair, Senin 15 Januari 2018. Aksi nekat korban dipicu persoalan dengan suaminya.Warga Dusun Karobelah 3, Desa Karobelah, Mojoagung Jombang ini bisa diselamatkan. Namun ketiga anaknya tewas. Depresi lagi-lagi menjadi penyebab Evy melakukan aksi nekatnya itu.

Mengenal berbagai macam penyakit mental, tindakan bunuh diri merupakan salah satu akibat dari penyakit mental yang tidak tertolong. Ada banyak penyakit mental yang mungkin kamu nggak tahu, atau bahkan ternyata pernah kamu alami.

sedih

Beberapa macam penyakit yang cukup sering di alami banyak orang. Gejalanya sangat bervariasi dan dapat mempengaruhi suasana hati, berpikir, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Gangguan Depresi Mayor
Rasa sedih atau terus kehilangan minat yang mencirikan depresi berat dapat menyebabkan berbagai gejala perilaku dan fisik. Ini mungkin termasuk perubahan dalam pola tidur, nafsu makan, tingkat energi, konsentrasi, perilaku sehari-hari, atau harga diri. Depresi juga dapat dikaitkan dengan pikiran bunuh diri.

Gangguan Kecemasan
Gejala berupa stres yang tidak sesuai dengan dampak peristiwa, ketidakmampuan untuk menepis kekhawatiran, dan gelisah.

Gangguan Bipolar
Episode manik dapat mencakup gejala seperti energi tinggi, jam tidur yang kurang, dan sering berkhayal. Episode depresi dapat meliputi gejala seperti energi rendah, motivasi rendah.dan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari. Episode mood terjadi selama beberapa hari hingga berbulan-bulan sekaligus dan mungkin juga terkait dengan pikiran untuk bunuh diri.

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas
Gejala sering dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan sampai dewasa. Dapat menyebabkan rendah diri, hubungan bermasalah, dan kesulitan di sekolah atau dalam pekerjaan. Gejala termasuk perhatian terbatas dan hiperaktif.

Pikun
Gejala termasuk mudah lupa, keterampilan sosial yang terbatas, dan kemampuan berpikir sangat terganggu sehingga mengganggu fungsi sehari-hari.

Skizofrenia
Skizofrenia ditandai dengan pemikiran atau pengalaman yang nampak tidak berhubungan dengan kenyataan, ucapan atau perilaku yang tidak teratur, dan penurunan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengingat.

Gangguan Obsesif Kompulsif
OCD sering berpusat pada suatu motif, misalnya takut kuman atau kewajiban mengatur benda-benda dalam pola tertentu. Gejala ini biasanya dimulai bertahap dan bervariasi sepanjang hidup.

Autisme
Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi. Gejala umum berupa sulit berkomunikasi, sulit berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif.

Gangguan Stres Pascatrauma
Gejalanya dapat mencakup mimpi buruk atau kilas balik, menghindari situasi yang mengingatkan trauma, meningkatkan reaktivitas terhadap rangsangan, kegelisahan, atau suasana hati yang tertekan.

Penyakit mental bisa dialami siapa saja Ingat! Penyakit mental tidak memandang umur, ras, jenis kelamin dan juga status. Bahkan orang-orang sesukses Chester Bennungton atau Kate Spade tidak kebal dari penyakit mental seperti pemikiran bunuh diri.Penyakit mental merupakan hal penting yang harus disadari semua orang, khususnya para generasi milenial yang memiliki risiko lebih tinggi, khususnya pemikiran untuk bunuh diri.

Banyak faktor yang membuat anak muda lebih rentan untuk mengambil keputusan bunuh diri. Salah satunya karena soal kegagalan dalam percintaan. Masih banyak yang berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan keluar dari semua masalah. Melihat berbagai kasus yang muncul, sudah saatnya semua elemen masyarakat mulai meningkatkan kesadaran akan peristiwa bunuh diri. Bukan tak mungkin, aksi bunuh diri terjadi pada orang-orang terdekat kita.

Saatnya peduli dengan penyakit mental Nah, buat kamu yang merasa pernah mengalami salah satu penyakit mental, ingat bahwa kamu nggak sendiri. Tidak ada persoalan yang tak selesai. Kamu bisa melakukan beberapa hal yang bisa meringankan bebanmu. Pertama, cari orang yang bisa kita percaya. Sadarlah, setiap orang umumnya memiliki orang-orang dekat dan bisa dipercaya. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mendengarkan curahan hati dan juga masalah yang sedang kita alami. Jangan sungkan untuk menghubungi mereka, jelaskan bahwa kamu membutuhkan bantuan mereka. Jangan memendam permasalahan sendiri, ceritakan hal-hal tersebut ke orang-orang terdekat.

Di era digital, hal penting yang juga mesti diperhatikan adalah menjauhi media sosial. Sebab, media sosial terbukti dapat meningkatkan tingkat stres dan mendorong depresi. Berdasarkan penelitian risiko depresi orang yang secara aktif menggunakan media sosial 3,2 kali lebih besar dibandingyang tidak menggunakan media sosial. Kita bisa mulai melakukan “diet” media sosial. Batasi waktu penggunaan media sosial.

Penyakit mental sering kali muncul karena seseorang merasa kesepian. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari perasaan kesepian adalah melakukan berbagai aktivitas. Setidaknya, buat diri sibuk dengan berbagai kegiatan untuk menghilangkan pikiran dan juga perasaan negatif dan mengubahnya menjadi positif. Tidak mudah memang, namun kamu terus memaksa diri agar dapat tetap berpikir positif tentang hidup ini.

Jika sudah melakukan hal-hal di atas namun masih tidak menolong, maka ini saatnya mencari bantuan tenaga profesional. Hal ini sangat penting untuk dilakukan jika penyakit mental dirasa udah mencapai tahap yang serius, hingga memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Nah, buat kamu yang memiliki teman atau kolega yang mengalami depresi, kamu bisa banget menolong mereka. Caranya, kamu bisa menjadi pendengar yang baik.Penyakit Mental tanpa Pandang BuluSebab, kesalahan yang sering kali terjadi adalah kita mendengar untuk merespons, bukan untuk mengerti. Orang-orang yang sedang mengalami penyakit mental, khususnya depresi sering kali tidak membutuhkan saran, mereka hanya ingin didengarkan.

Bersimpati atas keadaanya saat ini, sabar, tenang dan coba terima semua cerita-cerita yang mereka bagikan.
Apapun yang mereka alami pada masa lalu, seburuk apapun itu, walaupun hal itu tidak sesuai dengan nilai moral yang kita anut, jangan sekali-sekali menghakimi mereka.

Ambil waktu untuk mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan. Ini bukan soal apa yang mereka sudah lakukan, namun lebih mengenai bagaimana perasaan mereka akan hal tersebut dan juga apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka.

Selain itu, jangan mem-bully pada orang yang sedang depresi. Sudah sering terbukti bahwa bully dapat memicu tindakan bunuh diri.Efek bully terhadap perasaan dan kualitas diri dari korban sangat destruktif. Mereka akan merasa tidak bernilai, tidak dicintai, tidak diinginkan. Coba kita menempatkan diri di posisi mereka. Apa kita mau dipermalukan di depan umum? Jika tidak, maka jangan lakukan itu ke orang lain.

Bayangkan jika kesehatan mental bukan hal yang tabu dan negatif, akan banyak orang-orang yang mulai angkat suara dan berbagi mengenai pertarungan yang mereka lalui.

Baca juga : Peluang Usaha di tengah wabah Corona

Related Posts

Waspada Jantung Kolaps Saat Bersepeda

Waspada Jantung Kolaps Saat Bersepeda

Cara Membersihkan Racun dan Menurunkan Berat Badan Tubuh dengan Alami

Cara Membersihkan Racun dan Menurunkan Berat Badan Tubuh dengan Alami

Cara Mengatasi Sakit Kepala Sebelah Kanan Dan Belakang

Cara Mengatasi Sakit Kepala Sebelah Kanan Dan Belakang

Cara Mengatasi Tidur Mendengkur Secara Alami dan Sehat

Cara Mengatasi Tidur Mendengkur Secara Alami dan Sehat

Kaos Islami
Baju Distro
Hosting